Jumat, 05 Februari 2021

Renungan Misa Harian Sabtu 6 Februari 2021

 Renungan Harian

Sabtu 6 Februari 2021

 

Ibr.13:15-17.20-21

Mrk. 6:30-34

 

 

Dalam group proses penyembuhan atau penyelesaian atas sebuah soal, ada lima langkah yang perlu dilakukan. Pertama, data persoalan dari pribadi, keluarga, kelompok dan komunitas berasal dari sebuah assessment ilmiah yang terdiri dari pertama observasi dari dalam anggota kelompok itu sendiri maupun dari luar kelompok sehingga data observasi mendekati kebenaran bahwa dalam pribadi maupun dalam keluarga atau komunitas yang menjadi fokus, bisa mendapat persoalan secara obyektif. Kedua, wawancara pribadi, keluarga, atau komunitas yang hendak diteliti untuk mendapat data yang obyektif. Wawancara terbatas pada tokoh-tokoh kunci yang memiliki pengetahuan yang mendalam tentang pribadi, keluarga, atau komunitas yang diteliti. Ketika, questioner atau alat tes psikologi yang tepat sesuai dengan soal di dalam diri atau keluarga atau komunitas, berdasarkan persetujuan partisipan setelah penjelasan peneliti dan dipahami oleh partisipan. 

 

Kedua, data dari tiga alat asesement ini dapat dirangkum peneliti. Hasilnya disampaikan kepada partisipan untuk mendapat koreksi yang melengkapi data yang tekah peneliti rangkumkan. Setelah mendapat masukan dari partisipan, peneliti menentukan daftar persoalan dari group yang diteliti kemudian soal itu disampaikan kepada partisipan untuk didiskusikan, sampai menemukan masalah utama dari kelompok atau group atau komunitas yang diteliti.  

 

Ketiga, Masalah utama yang dimaksud bisa terdiri dari satu soal atau beberapa soal dengan penyebab utama yang memelihara persoalan itu. Setelah rumusan persoalan yang bersentuhan langsung dengan perasaan, pembicaraan, perbuatan dan pikiran dari anggota kelompok atau pribadi yang diteliti, peneliti dapat menyampaikan hasil rumusan sementara itu, presentasikan kepada partisipan untuk disempurnakan oleh partisipan. 

 

Keempat, setelah partisipan menyetujui hasil rumusan itu, peneliti dapat menuju tahap berikut yang membantu peneliti bersama partisipan menentukan perencanaan penyembuhan atas soal-soal group atau komunitas yang dirumuskan sebelumnya. Perencanaan penyembuhan atau penyelesaian soal ini meliputi tiga tahap terpenting yang harus dilalui. Pertama, peneliti bersama partisipan membaca rumusan soal sebelumnya. Dari dalam rumusan itu persoalan group yang berhubungan dengan emosi, tindakan, dan pikiran didaftar secara jelas dan pasti sebagai persoalan pokok atau persoalan inti dari group atau komunitas yang hendak melaksanakan proses penyembuhan atau penyelesaian atas soal-soal itu. Peneliti meminta konfirmasi partisipan atas daftar soal partisipan untuk membuat persoalan final menurut partisipan yang diteliti. 

 

Setelah partisipan menyetujui daftar soal groupnya atau komunitas, peneliti memasuki tahap berikut dari proses penyembuhan kelompok atau komunitas yang menjadi partisipan yang diteliti. Tahap berikut setelah daftar soal utama adalah peneliti bersama partisipan menentukan tujuan dari setiap daftar soal pada tahap pertama. Tujuan itu untuk menyembuhkan atau menyelesaikan setiap daftar soal group atau komunitas yang telah ditentukan sebelumnya pada tahap pertama dari proses penyembuhan. Tujuan itu semestinya spesifik, dapat terukur, dapat dicapai, konkret, memiliki batas waktu tertentu. Peneliti menjelaskan tujuan ini kepada partisipan sampai semua partisipan mengerti sebab dengan pemahaman partisipan itu partisipan dapat melaksanakan proses penyelesaian soal dalam group atau komunitas. 

 

Setelah mereka mengerti tujuan, peneliti dapat mengarahkan partisipan pada tahap berikut dari proses penyembuhan atau proses penyelesaian atas dafta soal dengan tujuannya yang telah ditentukan dan disetujui bersama. 

 

Untuk mencapai tujuan itu, peneliti menemukan dan menjelaskan intervensi yang efektif kepada partisipan sebagai satu cara untuk mencapai tujuan atau dengan kata lain menyelesaikan persoalan yang ada dalam group atau komunitas. Peneliti mengelaborasi literatur-literatur terkini tentang intervensi efektif atas soal group atau komunitas yang sedang ditujukan untuk diselesaikan. Peneliti memberikan contoh, bahkan latihan kepada partisipan sampai mereka mengerti dan mereka dapat melaksanakan intervensi efektif itu pada diri mereka sendiri dalam mencapai tujuan yaitu menyelesaikan masalah group atau komunitas. 

 

Kelima, setelah partisipan atau group atau anggota komunitas mengerti intervensi efektif berdasarkan literatur terkini, maka peneliti dapat beralih kepada tahap pengimplementasian intervensi efektif pada anggota komunitas atau group atau partisipan. Selama implementasi intervensi efektif itu, peneliti dapat menentukan jadwal monitor dan evaluasi, baik oleh peneliti, partisipan, maupun observer dari luar dengan mengisi form-form monitor dan evaluasi yang sudah disiapkan dan telah dibagikan. Dari hasil data monitor dan evaluasi ini, peneliti dan partisipan memiliki alasan yang cukup untuk mengatakan bahwa proses penyembuhan atau penyelesaian atas persoalan partisipan dapat berjalan dengan baik atau sebaliknya. Ternyata dalam pengimplementasian intervensi efektif itu tidak berjalan maka peneliti meminta persetujuan dan ijin partisipan untuk melakukan revisi karena sangat memungkinkan untuk itu. 

 

Revisi berarti peneliti dapat melakukan assessment ulang dan seterusnya melalui tahap-tahap seperti disebutkan di atas sampai group atau komunitas yang menjadi partisipan dapat sembuh atau menyelesaikan persoalannya. Atas dasar persetujuan partisipan bahwa mereka telah merasa nyaman karena masalah telah selesai maka proses penyembuhan atau penyelesaian persoalan group, secara bersama oleh partisipan dan peneliti mengakhirinya atau terminasi proses penyembuhan atau penyelesaikan persoalan komunitas atau group proses. 

 

 

Langkah-langkah group proses dalam menyelesaikan persoalan group di atas dapat digunakan untuk melihat group proses dalam komunitas para murid bersama Yesus secara khusus di dalam Injil pada hari ini.  Salah satu tahap dari group proses yang sangat aktual yang ditemukan di dalam group proses para murid adalah tahap evaluasi tugas dan kerja mereka sebagai pewarta Injil kepada segala suku bangsa. Mereka menyelesaikan persoalan bahwa begitu banyak orang yang belum mengenal Tuhan Yesus maka mereka perlu ditutus dan mewartakan Yesus kepada semua orang. Dalam melaksanakan tugas ini ada banyak pengalaman suka dan duka, gagal dan berhasil.  Yesus mengundang mereka semua berkumpul pada tempat yang sepi untuk sharing pengalaman, untuk evaluasi tugas misi mereka. Evaluasi ini penting karena dari sini para murid dapat menyempurnakan misi mereka dan jika perlu revisi, maka mereka perlu revisi cara pendekatan mereka sesuai konteks misi mereka masing-masing, sehingga revisi cara misi itu akan memberikan dampat positif bagi penerima pewartaan khabar Gembira Tuhan yang membawa keselamatan inklusif. Revisi itu baik yang berhubungan dengan misi ke dalam diri para murid dan ke dalam komunitas para murid itu sendiri maupun misi ke luar kepada orang-orang yang mereka layani. 

 

Mungkin dalam evaluasi itu termasuk menyangkut bidang fisik berupa Kesehatan, uang saku, uang makan minum pakaian serta biaya operasional yang lainnya dari misi. Saya rasa dan yakin, di sini peran murid Yudas Iskariot menjadi sentral dalam mempresentasikan semua kegiatan misi yang berhubungan dengan keuangan komunitas para murid bersama Sang Guru Yesus Tuhan. 

 

Dalam bidang rohani, tentu fokus pada hidup doa, puasa, dan berderma atau bersedeka sebagai tiga hal utama dalam mempertajam kesalehan para misionaris. Dalam Injil jelas, mereka pergi ke tempat yang sunyi, untuk mengolah dan mengasah keheningan mereka. Itulah pengalaman para murid dalam Injil hari ini.

 

Kita hidup dalam komunitas karya dan komunitas formasi dengan penekanan misi ke dalam dan keluar komunitas dengan penekanan yang berbeda-beda. Tetapi bagi kita tahap-tahap group proses komunitas kita untuk menyehatkan komunitas kita, harus kita sadari, dan implementasikan di dalam komunitas kita. Arahnya jelas dan sangat penting: untuk menyehatkan kehidupan kita bersama di dalam komunitas karya dan komunitas formasi. Lima tahap untuk menjadikan komunitas kita sehat atau setidak-tidaknya meminimalkan persoalan dalam komunitas kita yaitu kita tahu soal-soal yang ada dalam komunitas kita melalui assessment rutin yang kita lakukan dalam waktu yang telah terencana rapi. Kita bersama merumuskan persoalan itu. Kita bersama mendaftarkan persoalan utama dalam komunitas kita. Kita menentukan tujuan dari persoalan itu. Kita menemukan intervensi efektif terkini dalam menyelesaikan persoalan utama komunitas kita yang sedang kita alami. Kita mengimplementasikan intervensi efektif itu dan dalam pengimplementasian itu kita menentukan bagaimana memonitornya, mengevaluasinya, merevisinya jika perlu, sampai komunitas kita berjalan sehat dan normal untuk kebaikan kita bersama. Semoga berguna bagi pembaca.*** (P.Benediktus Bere Mali, SVD)***

 

 

 

 

Kamis, 04 Februari 2021

Renungan Harian Jumat 5 Februari 2021

  Refleksi Bacaan Misa Harian

Jumat 5 Februari 2021

Ibr.13:1-8

Mrk 6:14-29


*P.Benediktus Bere Mali, SVD*



Ada tiga hal penting yang menjadi godaan bagi manusia yaitu tahkta, harta, dan seks. Godaan ini disinggung di dalam bacaan-bacaan suci hari ini. Bacaan Pertama berbicara tentang godaan harta dan seks. Dalam bahasa bacaan Pertama tertulis, janganlah menjadi hamba uang dan janganlah menodai tempat tidur. Sementara di dalam bacaan Injil berbicara secara detil tentang godaan kuasa. Hamba kekuasaan  dapat menghalalkan segala cara untuk memiliki kuasa dan sekaligus menjadi hamba kuasa. Herodes memiliki sekaligus menjadi hamba kuasa. Ia memenggal kepala Yohanes Pembaptis demi harga diri, kuasa, dan seks. Herodes hamba kuasa, harta, dan seks yang berpuncak pada Pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis yang  terjadi setelah Yohanes Pembaptis menegur Herodes yang memperisteri Herodias, isteri Filipus saudaranya. Herodes hamba kuasa, harta dan kenikmatan seks. Herodes menghalalkan segala cara untuk memiliki dan sekaligus menjadi hamba harta, kuasa, tahkta.


Pesan bagi kita adalah cukupkanlah dirimu dengan materi tapi janganlah materialis, cukupkanlah dirimu dengan kuasa tetapi janganlah hamba kuasa seperti Herodes, cukuplah dirimu dengan kepuasan dan kenikmatan inderawi tetapi janganlah menjadi hamba kenikmatan duniawi yang sementara. 


Arahkanlah dirimu berkuasa untuk melayani dengan tulus ikhlas,  berharta duniawi untuk memperoleh harta surgawi yang abadi, dan memiliki kenikmatan inderawi untuk memiliki kenikmatan surgawi yang kekal. Tuhan memberkati.***

Kematian: Panggilan sempurna dari Allah

  

*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


 Sumber refleksi tentang

Kematian: Panggilan sempurna dari Tuhan


Rm. 14:8

Mrk.8:33

Mat. 16:23


Pada waktu masih kecil tetangga dan orang tua yang tinggal di sebuah kampung dengan rumah-rumah adat yang berdekatan dengan di halaman tengah perkambungan tempat bermain anak-anak, tempat menyelenggarakan simbol-simbol adat-budaya yang meliputi kata-kata atau doa, bahan material yang digunakan, dan kegiatan atau  bahasa tubuh dalam penyelenggaraan ritus tersebut.


Salah satu kegiatan di halaman tengah itu adalah setiap sore kami sebagai anak-anak bermain dan berbagi cerita tentang cerita cerita yang penuh dengan sukacita, gembira,  damai, dan nyaman serta yang enjoy. Ketika cerita tentang kemarahan satu terhadap lain, bahkan cerita tentang dukacita, sedih, kematian, orang tua, kakak atau saudara yang mendampingi dan mendengar itu langsung menarik kami ke tempat lain sambil cerita-cerita sukacita untuk sekedar mengalihkan perhatian dari yang dukacita kepada yang sukacita.


Ketika Yesus bercerita tentang kematian, Petrus menarik Yesus ke belakang dan menegur serta melarang Yesus agar jangan ceritera tentang kematian. Petrus mau supaya Yesus berbicara tentang sukacita, kegembiraan, enjoy. Petrus tidak mau saat enjoy bersama diakhiri dengan berita duka, dan kematian. Pengalaman Petrus ini terjadi saat orang banyak sedang berbondong-bondong mengikuti Yesus yang membuat begitu banyak orang penuh dengan Damai dan Sukacita bersama Yesus. Petrus mau supaya terus hidup enjoy dan kedamaian ini jangan cepat berlalu. Tetapi Yesus marah Petrus. 


Yesus  berpaling sambil memandang murid-murid-Nya lalu memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis,  sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia (Mrk. 8:33)." Atau versi Mat.16:23, "Yesus berbalik dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai Setan! Kamu adalah batu sandungan bagi-Ku sebab engkau tidak menetapkan pikiranmu pada hal-hal dari Allah, melainkan hal-hal dari manusia.”


Barangkali pengalaman Petrus ini dapat ditujukan kepada kita. Kita lebih enjoy dengan hal-hal yang aduhai. Tetapi bukan pada hal-hal yang duka dan kematian. Sepertinya kita hanya mau memilih yang sukacita saja tetapi menolak yang dukacita. 




Banyak orang yang tidak mau susah, mati, maunya enjoy saja. Saya ingat pengalaman sakit mantan provinsial sebuah kongregasi yang tak berdaya dengan kesehatannya tapi ekspresi lahir wajah-Nya begitu senyum bahagia, tidak mengeluh, menerima. Lalu saya tanya, apa kuncinya? Beliau jawab begini, sakit, menderita, bahkan kematian adalah bagian dari panggilan saya, panggilan kita manusia. Saya terdiam lama mendengar dan merekam rapi di benak. Lantas saya lanjut dalam hati, memang  betul sekali bahwa beliau mengerti secara tepat tentang psikologi perkembangan ini bahwa setiap orang harus melewati tahap-tahap perkembangan manusia universal. Kita manusia harus melewati dan mengalaminya. Tahap psikologi perkembangan kita itu meliputi:   lahir, hidup, kerja, sakit, mati. Setiap orang mengalami dengan caranya masing-masing. Ada yang menerima setiap tahap hidupnya. Tetapi ada pula yang menolak setiap tahap hidupnya. Salah satunya tolak atau terima dukacita, derita, dan kematian. 



Yang menerima kematian pasti telah siap sejak awal karena derita dan kematian adalah bagian dari tahap hidup manusia dan tampak enjoy mengalami duka dan kematian sebagai satu Panggilan sempurna dari Tuhan sebagai suatu moment penting untuk penyembuhan total dan Sukacita abadi di Surga. 

Maka tepat Paulus menulis Suratnya kepada jemaat di Roma. "Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Karena kita hidup bukan untuk kita sendiri dan mati bukan untuk diri kita sendiri, tetapi baik hidup dan mati adalah untuk Tuhan (Roma 14:8)."


Panggilan hidup. Panggilan mati Kita tetap milik Tuhan. Panggilan pada kematian adalah panggilan Paling Sempurna. Orang/kita harus bicara tentang dukacita, kesedihan dan kematian. Karena itu adalah panggilan kita. Baik hidup atau mati Kita adalah milik Tuhan.***

Rabu, 03 Februari 2021

Panggilan Sempurna dari Tuhan

 Renungan Harian 

Kamis 4 Februari 2021

Sumber Refleksi 

Ibr.12:18-19.21-24

Mrk. 6:7-13




*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Injil hari ini mengisahkan tentang panggilan para murid  mengingatkan kita akan panggilan kita masing-masing. Panggilan para murid dan panggilan kita adalah sebuah rahmat Tuhan. Kita berterimakasih atas rahmat panggilan kita. Kita juga patut merayakan panggilan kita ini dan panggilan para murid ini sebagai sebuah rahmat Tuhan. Seringkali dalam kelemahan dan keterbatasan Kita, Kita bertanya pada diri kapan panggilan kita menjadi Sempurna?  Mengapa setelah mengikuti panggilan Tuhan menjadi imam, bruder biarawan biarawati masih tetap ada kekurangan dan kelemahan di sana dan di sini? Mengapa setelah Tuhan memanggil Kita secara khusus, masih ada berbagai kesulitan dan tantangan serta hambatan yang terus datang dan dialami?  



Menghadapi berbagai pertanyaan itu pada akhirnya Kita akan  tiba pada satu kata di tengah-tengah perjuangan  Kita, pasrah pada panggilan Tuhan menuju panggilan yang Paling Sempurna yaitu "Panggilan menuju Yerusalem Surgawi"  Yerusalem Baru sebagai sebuah panggilan yang Sempurna. Kita semua akan mengalami panggilan ini. Tidak seorang pun dapat lari dari panggilan Tuhan menuju Surga.


 Kematian Konfraters Romo Alo Wayan SVD dan Romo Yusuf Halim SVD adalah sebuah jalan panggilan kesempurnaan di dalam Yerusalem Surgawi. Yerusalem abadi. Hari ini mereka memenuhi panggilan Surgawi. Kita pun akan mengalami pemenuhan panggilan Sempurna itu. 


Mari Kita merayakan panggilan kita dan kedua konfraters Kita di dalam Perayaan Ekaristi pada Hari ini. ***

Renungan Harian Kamis 4 Februari 2021


Sumber Refleksi 

Ibr.12:18-19.21-24

Mrk. 6:7-13


*P.Benediktus Bere Mali, SVD*


Sharing pengalaman dengan sesama, antara dua orang atau lebih  itu sangat penting. Sharing pengalaman sangat membantu membuka peluang untuk menolong dan ditolong berdasarkan rencana strategi dan tujuan bersama, untuk menuntun dan dituntun pada arah yang tepat dan benar, untuk mengingatkan dan diingatkan, untuk menegur dan ditegur, untuk mengkritisi dan dikritisi sesuai arahan awal, strategi awal, untuk tujuan awal Sang Guru.   Singkatnya, sharing pengalaman itu menyehatkan, menyelamatkan, menyembuhkan, mengurangi sakit penyakit, mengurangi kesulitan dan persoalan, mengurangi dan meminimalkan kesalahan, mengutamakan kebijaksanaan dalam situasi dan kondisi yang  tepat dan baik serta benar. Letak pentingnya sharing itu disadari Tuhan Yesus Sang Guru 12 murid. 


Yesus memanggil keduabelas murid dan membagi mereka berdua-dua  lalu memberi kuasa atas roh-roh jahat. Artinya kuasa yang Tuhan beri kepada 12 murid yang dibagi dalam 6 Kelompok, dan setiap kelompok 2 orang, diberi kuasa Roh Kebaikan yang berasal dari Allah untuk mengantar semua orang yang mereka akan layani  kepada Tuhan Yesus. Enam Kelompok itu diutus ke tempat yang ditentukan oleh Sang Guru, Tuhan Yesus.  Yesus sesungguhnya memiliki rencana yang matang, strategi yang baik dengan kerja team yang solid, dan tujuan yang tegas dan jelas yaitu Roh Kebaikan adalah penuntun utama dalam situasi dan kondisi apapun. Artinya semua itu berjalan di dalam Group Proses yang baik. Pertama dan utama group proses itu untuk menyembuhkan dan menyelamatkan komunitas intern, ad intra yang menjadi dasar yang kuat dalam menjalankan tugas perutusan ke luar, ad extra, untuk menyembuhkan, menyelamatkan semua orang lintas batas.


Group proses kita perlu di dalam komunitas karya dan komunitas pembentukan. Group proses Yesus dan para murid adalah model group proses dalam keluarga kita sebagai Gereja pertama dan utama. Lewat group proses bermodelkan group proses dalam Injil hari ini, kita tegas untuk hidup dalam kuasa Roh Kebaikan yang menyelamatkan, menyehatkan, menyembuhkan Kita. ***

Selasa, 02 Februari 2021

Renungan Misa Harian Rabu 3 Februari 2021

 Renungan Misa Harian

Rabu, 3 Februari 2021

Ibr.12:4-7.11-15

Mrk.6:1-6


*P.Benediktus Bere Mali, SVD*



Ada teka teki besar dari bacaan Injil Hari ini. Teka-teki itu dapat diformulasikan di dalam persoalan atau dengan kata lain saya merumuskan persoalan ini dalam bentuk pertanyaan seperti ini.   Apakah ada sesuatu yang sangat aneh saat Yesus mengajar orang banyak seasal-Nya  yang mendengar-Nya merasa sangat heran dan takhjub, lalu kemudian menolak Yesus? Ya ada sesuatu yang sangat ganjil. Yesus mengajar begitu bagus tetapi kemudian mereka yang mendengar-Nya menolak Yesus. Keanehan itu muncul saat mereka mendengar-Nya lalu mengajukan aneka pertanyaan bukan tentang isi atau berbobot tentang apa yang dikatakan dalam pengajaran tetapi mempersoalkan kulit luarnya  yaitu tentang siapa yang mengatakan atau berbicara. Yesus adalah orang sederhana, berasal dari keluarga yang sederhana, lahir dalam kesederhanaan di kandang Betlehem, orang tua-Nya membawa 2 ekor burung merpati ke Bait Allah saat Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Hanya orang miskin sederhana yang mempersembahkan 2 ekor burung merpati atau dua ekor burung tekukur. Sedang orang yang kaya mempersembahkan domba atau kambing menurut Hukum Musa. Kesederhanaan Yesus itu menjadi fokus orang orang yang menolak-Nya  dan hal itu menutup semua apa yang bermutu yang disampaikan di dalam pengajaran-Nya kepada mereka. 


Bagi orang-orang sekampung yang menolak-Nya, orang yang memiliki status sosial yang tinggi warisan tradisi  adalah orang -orang yang dapat didengarkan. Tetapi bagi Yesus kualitas pengajaran terletak pada siapa saja termasuk orang yang  sederhana sekalipun. 


Perbedaan kacamata yang digunakan dalam melihat apa yang dikatakan dengan siapa yang mengatakan dari Yesus dan orang-seasal-Nya dapat menimbulkan hal aneh dalam Injil Hari ini.


Pada masa ini dengan 4G dan 5G yang merata di seluruh pelosok dunia, takaran apa yang dibicarakan dan siapa yang berbicara, jurangnya telah diruntuhkan. Hanya orang yang berlari cepat mencari dan menemukan yang berkualitas dan mengatakan yang berkualitas lah yang akan menempati urutan terbaik. Bagi saya dalam Injil hari ini, Yesus berlari lebih cepat mencari dan menemukan yang berkualitas dan datang ke kampung tempat kelahiran -Nya mengatakan yang bermutu kepada orang-orang seasal-Nya. Kita semua, yang Jaya maupun yang sederhana saja, mempunyai peluang yang sama 24 jam sehari, kalau kita berlari lebih cepat mencari dan menemukan yang berkualitas maka kita pun memiliki kesempatan menyatakan yang berkualitas kepada orang lain termasuk orang yang seasal tempat kelahiran dengan kita. Memang kita juga tetap memiliki peluang untuk diterima dan ditolak tentang apa yang terbaik yang disampaikan atau dilakukan. Tetapi seperti  Yesus, teruslah kita melakukan kebaikan kepada sesama  lintas batas. Di antara satu kampung yang menolak masih ada kampung-kampung lain yang menerima apa yang terbaik yang akan kita sampaikan kepada mereka. ***

Senin, 01 Februari 2021

Renungan Yesus dipersembahkan di Bait Allah Selasa 2 Februari 2021


MENGUBAH DUNIA MULAI DARI HAL SEDERHANA



Mal. 3:1-4

Ibr.2:14-18

Luk.2:22-40

 

 

*P. Benediktus Bere Mali, SVD*

 

 

Manusia hidup dan beraktivitas dari lahir sampai mati bahkan keadaan setelah kematian pun berada di dalam aturan agama dan aturan sipil. Salah satu aturan sipil adalah keluarga Yusuf dan Maria ikut sensus jiwa saat menjelang kelahiran Yesus di Betlehem. Yesus hidup sebagai orang yang beragama Yahudi mentaati aturan agama Yahudi. Orang tua Yesus mempersembahkan Yesus setelah 40 hari kelahiran-Nya sesuai hukum Taurat.

 

Penyambut Yesus adalah Simeon dan Hana. Keunggulan Hana dan Simeon adalah senantiasa dekat dengan Allah. Mereka adalah orang yang suci, kudus di mata orang-orang yang mengobservasinya. Hana dan Simeon utamanya suci dan kudus di depan mata Allah. Mereka berdoa, berpuasa di Bait Allah dalam usia senja hidupnya. Mereka menjumpai Allah di Bait Allah yang telah menjadi manusia di dalam diri Tuhan Yesus sendiri. Roh Kudus membimbing Simeon dan Hana datang ke Bait Allah pada waktu yang tepat untuk menyambut Tuhan Yesus yang dipersembahkan oleh kedua orang tua-Nya di Bait Allah.

 

Di Bait Allah manusia bertemu dengan Tuhan Yesus secara langsung dan dalam Simbol yang digunakan yaitu melalui kata-kata/doa, materi (tubuh-fisik, alat pemberkatan), dan tindakan yaitu Gerakan tubuh saat melakukan ritus pemberkatan. Semua gerakan ritus penyambutan Yesus di Bait Allah, kata-kata atau doa, tentang Yesus dan masa lalu Yesus dan masa depan Yesus dan semua materi termasuk tubuh fisik dan material lain yang disebutkan di dalam penyambutan. Ketiganya menjadi satu kesatuan yang utuh dan lengkap mewarnai perjumpaan Tuhan di Bait Allah. 

 

Perjumpaan dengan Yesus terungkap di dalam bacaan pertama. Nubuat Nabi Maleaki tentang utusan yang menyiapkan jalan bagi Tuhan terpenuhi di dalam diri Yesus yang pestanya dirayakan pada hari ini. Pada waktu orang tua, Yesus dan Maria mempersembahkan Yesus kepada Tuhan di Bait Alllah, Simeon yang diutus Roh Kudus menyambutNya dan menatangNya di Bait Allah. 

 

Terpenuhilah janji Roh Kudus kepada Simeon bahwa ia tidak akan meninggal sebelum melihat Mesias yang diurapi. Hal ini termuat di dalam doa Simeon saat sedang menatang Yesus, “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

 

Betapa bahagianya Simeon yang telah melihat Mesias yang dijanjikan Roh Kudus kepadanya. Betapa sukacitanya Yusuf dan Maria dibalik ungkapan keheranan atas semua yang dialami, dilakukan dan dikatakan oleh Simeon yang sedang menatang Yesus. 

 

Simeon utusan Allah itu lalu memberkati (Gerakan ritus berkat dan materi yang yang digunakan untuk memberkati) mereka, dan berkata kepada Maria ibu Anak itu, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”  

 

Perkataan Simeon ini tentang masa depan Yesus. Bahwa Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah ini adalah Bait Allah yang hidup itu sendiri. Kehadiran-Nya akan menjadi pertentangan bagi banyak orang. Kehadiran-Nya sebagai Bait Allah yang hidup dan akan menjadi pertentangan bagi orang-orang yang tidak menyetujui kejujuran, kebenaran, keadilan, dan kedamaian yang dihadirkanNya. Puncak penolakan itu adalah penderitaan dan kematian-Nya di Salib. Penderitaan dan kematian-Nya di Salib itulah yang menjadi pedang yang akan menembus jiwa Maria Ibu Gereja dan Ibu Tuhan Yesus sendiri. 

 

Di situ ada juga nabiah Hana yang selalu setia berdoa dan berpuasa di Bait Allah dalam mengasah kesalehannya. Karena kesalehannya itu, maka Roh Kudus mengutus Hana menyambut Yesus dan berbicara tentang Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Kelepasan untuk Yerusalem ini bukan secara politis tetapi secara spiritual. Yesus membebaskan Yerusalem dengan melayani Yerusalem sampai menderita dan wafat di salib dan berpuncak pada kebangkitan-Nya sebagai kemenangan atas kematian dan maut. Itulah kelepasan untuk Yerusalem dan di luar Yerusalem dalam arti spiritual.

 

Kita mempersembahkan diri sebagai persembahkan kepada Tuhan yang paling istimewa. Teladan Hana dan Simeon mempersembahkan dirinya siang dan malam di Bait Allah dalam mengasah kesalehan mereka lewat berdoa, berpuasa dan bersedeka. Bersedeka atau berderma atau berbuat amal tidak ditampilkan secara pasti dalam diri Simeon dan Hana karena mereka telah usia lanjut.  Hal ini menunjukan bahwa mereka adalah orang sederhana, tidak memiliki uang atau materi yang cukup untuk melakukan amal. 

 

Maria dan Yusuf pun adalah orang saleh yang sederhana dan telah dipilih menjadi ayah dan ibu Tuhan Yesus. Kesederhanaan mereka tampak dalam mereka membawa dua ekor tekukur atau dua ekor merpati sebagai bahan persembahan di Bait Allah pada pesta Yesus dipersembahkan kepada Tuhan di Bait Allah. Sedangkan biasanya orang yang kaya pada dasarnya membawa kambing atau domba yang sudah berumur satu tahun sebagai bahan persembahan di Bait Allah sesuai hukum Taurat. 

 

Tuhan Yesus lahir sederhana, dipersembahkan di Bait Allah dalam kesederhanaan, berkarya secara sederhana dan matipun dalam sebuah kesederhanaan. Tuhan kita itu sederhana. Pasti  kesederhanaan kita Tuhan perhatikan. Tuhan memberkati kita semua.***